/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/cursors/cur-9/cur847.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/cursors/cur-9/cur847.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */
Kamis, 13 September 2012

Aku, Dia, dan Jelek (cerpen)

ohehehe, ketawa terus yaa kalo mulai mau ngetik teh hahaha
oke oke hilapin, hilapin!
eh eh, kali ini abdi mau berbagi sama kalian tentang kisah cinta *adeuh yang begitu rumit yang akhirnya dapat  bersemi juga hehe
ini dia, cerpen karya amimahmoi (ffsug), tak begitu pendek tapi panjang, yaa selamat membaca:)

oyaa sebelum ke inti postingan ini, abdi mau nyoba ngasih tau kalo :
  Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokohplottemabahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.

ini yaa cerpennya, mangga dibaca :))


Aku, Dia dan Jelek.

            21 April 2012, hari yang sangat berkesan. Rasanya, aku orang paling beruntung. Kebahagiaanku terkumpul saat kulihat rona wajahnya yang cerah lebih dari sinar surya, namun tak setajam silet tatapannya tepat pada bola mataku.
                21 April 2012, kuawali hari itu dengan penuh keceriaan. Tak seperti hari-hari kemarin, selalu sedih, risau dan galau (anak muda jaman sekarang). Jantungku berdetak normal.
            Indahnya pagi, hangat membekas dalam lamunan. Aku bergegas dari penatnya kehidupan malam menuju luasnya kelenjar fajar. Ketika aku naik angkot, suatu keanehan terjadi pertama kali padaku saat itu, entah mengapa mereka (para penumpang), menjamuku dengan senyuman. Mungkin mataku saja yang sedang tulalit . Ketika kubuka jendela, kutatap matahari sedang melelehkan hatiku.  Pohon-pohon melambaikan jemarinya mengantarku menuju gerbang masa depan cerah.
            Sesampainya disekolah, jarum jam menunjukkan pukul 07.00.Tak biasanya Pak Satpam membiarkanku masuk sekolah (batas waktu gerbang ditutup pukul 07.10). Ketika aku masuk, ternyata karpet merah sudah terhampar dengan rapinya dan dua angsa yang kuberi nama si putra dan putri menuntunku menuju Mushola, tempat dimana anak-anak B6 berkumpul. Di Mushola, mereka menatapku dengan ceria, tertawa terbahak-bahak, lepas bebas tanpa beban sambil menunjuk  kearahku. “Haa ada apa gerangan?”, ujarku. “Apa yang salah? Adakah yang tidak beres?” Lalu aku segera bergegas mencari cermin. Dicermin kulihat rambutku masih rapi (walau sedikit galing), wajahku masih biasa (kurang tampan tapi lucu), hidungku ya masih seperti potongan jambu air (tak kecil), telingaku juga masih ada dua, masih lengket dengan cairan kental kuningnya, Oh yaa tak lupa gigiku yaa masih tetap tak beraturan. Maklum, dulu belum ada arsitek ahli gigi, jadi kontstruksi bangunannya masih rancu.Ya, aku percaya tak ada yang aneh menurutku. Lalu aku beranjak dari cermin menuju WC mengambil ribuan tetes air. Kuusap rambutku, kubasuh wajahku, kugosok kelopak mataku; kulihat masih ada belek berserakan. Aku kembali lagi ke cermin, kuluruskan rambutku dan gigiku (terasa mukjizat). Kulihat wajahku di cermin, nampaknya seperti Justin Bieber (terlalu jelek), yaa Greyson C (masih jelek), oh Ariel (tobat), ah Edward Cullen pasti ( dijual diemperan), hahaha Aku ya Aku!
Aku menuju ruangan Seni Sunda. Diruangan tercinta ini, aku disambut hangat oleh gending saron, birama goong, jentring kacapi, dan lengking suara suling, tak tertinggal juga suara ngakak terbahak-bahak para pecinta pacar lama. Seperti di Mushola, aku kembali dijamu dengan tawa teman-temanku.
Otakku berjalan kembali, sel-sel syarafku menegang. “Haa apa yang salah?”, ujarku dalam otak kanan. “Mungkin wajahku”, jawabku dalam otak kiri. “Eh, kan tadi teh udah ngaca, wajah mah rapi-rapi aja ah” sambut otak kananku menjawab. “Coba ngaca lagi ah, mukaku mirip cepot kali” jawab otak kiri. Lalu aku lirik papan tulis, kusamakan wajahku dengan gambar cepot.“Yah, payah, gantengan cepot ternyata yaa” bisik hati mungilku. Aduuuuh gawaaaaaat! apakah ini yang dinamakan GALAU oleh anak-anak muda jaman sekarang? (berarti aku = jadul sssssttttt). Ya, sekali lagi aku merenung, meratapi semuanya, aku bertawasul dengan jaket kesayanganku, FLS2N. Aku GALAU. Tak ada yang berani mendekatiku, mungkin aku bau. Tak ada yang mengerti akan keadaanku sekarang kecuali kau yang selalu mengerti aku, kapanpun, dimanapun, kau selalu ada untukku, tetapi tidak dengan semuanya, mereka giiiilllllaaaa!.
            “Wajahku lebih jelek dari cepot, wajahku lebih jelek dari cepot, wajahku lebih jelek dari cepot” kudzikirkan kata-kata itu bersama tembangku.
            Dengan wajah jelek ini, aku bisa diputusin sama kamu tanpa memberikan setitik pun alasan, oh mungkin alasannya, kamu malu, enggan dan tak sanggup mengatakan aku jelek. Hahahahaha terlalu bodoh untuk kuungkit lagi.
            “Ah, aku tak bisa, aku tak bisa berpaling, aku tak bisa mengelak, aku jelek, aku ini jelek dan sangat jelek aaaahhhhh!”. Raga dan jiwaku berlari, aku melayang bersama gelapnya duri mimpi. Namun saat itu juga, kudengar suara yang bising,nyaring dan itu tertuju padaku “Masa kamu gabisa move on sih, Andien aja bisa move on bersama mentari, tapi kok kamu gabisa move on sama axis,  kamu kan deket sama rakyat, ayo ayo ayo go go go go move on!”.Ternyata itu adalah teriakkan dari seisi ruangan seni sunda. “Yaa benar, aku harus move on, tak ada gunanya aku meratapi kejelekkan wajahku, tak ada lagi kesedihan, tak ada lagi risau, dan tak ada galau, MOVE OOOOON!”.
            “Move on, move on, move on, move on” kuganti kata-kata yang kudzikirkan tadi, kusisipkan kata-kata ini dalam rajahku, untukku, untukmu dan untuk-Nya”.
            Kubuka kedua mataku, kulihat sekelilingku, nampaknya mereka tetap fokus saja dengan apa yang sedang mereka lakukan. Lalu kuraba wajahku, kurasakan wajahku seperti buah segar, fresh sekali, yaa akhirnya aku, kegilaanku kembali lagi, aku bahagia.
Aku keluar dari ruangan ini. Dijalan, dipersimpangan menuju ruangan kelas atas, kantor dan lontong jack, aku bertemu dengan dia yang melempar senyum padaku. Aku sapa dia, dia yang selalu aku sapa, bukan sapaan yang selalu menyapa dia. Dia dia dia, yang kutunggu. Aku berjalan menuju lapangan serbaguna Smansa. Disana kulihat mereka yang sedang memainkan senar, tam-tam yang bergema dan mik yang basah oleh air terjun simanalagi. Sesudah darisana, aku bergegas dengan penuh semangat sehabis tadi bertemu dengan dia (haha) menuju SBC (saung beach corner) sebutanku itu (kayaknya). Disana anak-anak B6 sedang berumbuk untuk menampilkan cost play, mereka me-make-up diri mereka masing masing dengan bedak seadanya, baju seadanya,serba seadanya, yaa memang kami anak-anak yang serba seadanya, tampil juga nanti dengan cara kita yang seadanya. Aku pun ikut me-make-up diriku, dengan cinta. Aku ingin memukau mereka dengan cintaku, tanpa terkecuali untuk dia.
Jam menunjukkan pukul 12.00 WIB. Yah make-up mereka luntur, kesannya tuh jadi kayak badut,aneh dan tak lazim. Tetapi tidak denganku, make-upku tidak luntur sedikitpun, ada yang tau mengapa? Ini sebabnya karena aku pakai cinta dibedakku, dibajuku, ditubuhku, dijiwaku, disukmaku. Aneh bukan?Ya terlalu tak masuk akal dalam otak manusia biasa (mereka yang tak ada cinta dalam hidupnya). Dan asal kau tau, Aku begini karena dia, dia yang tadi melemparkan senyumnya, dia yang tadi kusapa.
Lalu aku bergegas kembali menuju lapangan. Dijalan aku bertemu lagi dengan dia, dia  tadi kusapa, berbalik menyapaku terlebih dahulu, bertanya dengan nada cinta, hangatkan jiwaku, selimuti aku dengan kasihmu. “Eh mi, maen jam berapa?” tanyanya.“Ini euh jam 3an neng (samaran)” jawabku.“Oh ya ath, sukses ea” katanya.“Haha nuhun, eh eh neng, ami mau ke lapang dulu yaa hehe” ujarku. “oh yaya hati hati mi” jawabnya. Sambil berjalan menuju lapang, aku sempat bingung. “Loh kok dia ngomong hati hati dijalan?”, dalam hati ku bertanya. Eh bener, ternyata di dekat gerbang menuju lapang, aku tersandung batu, yaa aku tersandung batu cintanya. Aku bangun, tapi anehnya aku merasa tidak menginjakkan kaki, aku melayang, karena cintanya juga. Mungkin.
Tepat pukul tiga pas, aku dan kawan kawan The Amoys (bandku), disuruh panitia untuk bersiap siap diatas panggung, yaa sementara untuk checksound sebentar sambil menunggu penampilan costplay kelas 11 bahasa. Diatas panggung,aku sempat bermain mata dengan mereka yang ada didepanku, mereka yang ada dibawah naungan auning yang memanjang. Kulihat ratusan perempuan yang begitu lusuh dengan tatapan kosong tanpa cinta. Kucari dan kucari dia. Disebelah barat, utara, dan selatan. Ah aku tidak menemukannya. Terus saja kucari dia yang penuh cinta. Kembali ku check bassku, mikku, ku check soundku yang ada dibelakangku, yaa sudah bagus menurutku. Lalu ketika aku berbalik kembali kedepan, kulihat semuanya gelap. Tanpa disadari, ternyata kulihat setitik cahaya jauh didepan sana yang semakin membesar. Kulihat lebih jelas, ternyata cahaya itu penuh cinta, oh yaa itu, itu dia yang tadi memberiku nafas cinta melihatku dengan senyuman mawar putihnya, menatapku dari kejauhan namun serasa dekat karena cinta. Aku bersemangat penuh cinta, ingin kupersembahkan lagu ini untuknya lagu “Menunggu Bintang Terang”, lagu yang akan kunyanyikan sekarang khususon untuk dia dengan “cahaya cinta”. Sesudah itu, costplay dari kelas 11 pun berakhir dan ini saatnya untukku mempersembahkan lagu ini untuk dia. Kuawali lagu ini dengan keceriaan, bersama kami The amoy’s penuh cinta. Kulirik dia, dia tetap tersenyum. Membuatku tak tahan untuk meledakkan sejuta bunga cinta diatas panggung ini. Kuledakkan semuanya, aku bahagia melihat senyumnya melihat cintanya. Tak terasa lagu pertama usai. Saatnya lagu kedua, tapi ini kupersembahkan untuk kamu yang melepasku dengan mudahnya. Yaa lagu “Biarlah” yang sudah ku aransement bersama The Amoy’s. Kunyanyikan dengan khidmat, ini curahan hatiku, “biarlah kurela melepasmu meninggalkan aku” aku rela kau lepaskan, karena dengan itu aku bisa lebih leluasa dengan dia yang penuh cinta. Yaa aku dilema, aku galau, lagi-lagi risau. Hingga tak terasa lagu kedua pun usai. Kutatap lagi dia yang ada didepan sana. Ah lagi-lagi dia meleburkan hatiku, menguapkan sukmaku, kami saling menatap dari kejauhan, dia melemparkan senyumannya kembali untukku. Lebih tajam menusuk mataku yang memang sudah terluka.
Setelah aku dan The Amoy’s tampil, aku harus segera kembali menghibur mereka dan dia, aku akan menampilkan kealayanku didepan dia dan mereka bersama teman-temanku, inspirasiku, B6-ku.

            Kembali, kami, B6 dipanggil panitia untuk bersiap siap. Aku mendandani diriku lagi, ku pakai topi jacky hitam, ku pakai rompi hitam, tanpa kaos, seperti cover boy majalah feminim pikirku. Aku pun berlenggak lenggok tanpa malu ku perlihatkan keperkasaan ototku, otot tulang kayu rapuh. Dengan alaynya ku memukau dia dan mereka didepanku. Ketika kulihat wajah dia, wajah yang penuh cinta, aku terbang melayang tinggi, aku grogi melihat wajahnya, aku nervous, pikiranku blank, aku lupa, karena wajah dia, dia yang mengalihkan duniaku. Tetap saja aku tampil tapi dengan kesepontananku. Aku meracau, entah apa yang aku katakan didepan mereka. Mungkin karena saat itu aku penuh cinta, tak terasa kembali penampilan costplay kelas kami pun selesai. Lalu aku bersama teman-temanku menuju SBC. Dijalan, yaa didepan jajaran kelas 12 tepatnya, aku bertemu lagi dengan dia. Kali ini aku yang lebih dulu menyapanya. “eh eneng (samaran), ketemu lagi, gimana eh tadi, ami gila yaa?” kataku. “aha ih engga ih, bagus kok” jawabnya. Saking groginya aku menatap wajahnya, akhirnya aku memutuskan untuk berlari meneruskan pelarianku menuju SBC melepaskan segala kepuasan.
“Seakan mataku tertutup, ingin cinta ini dapat kau sambut,eratkan perasaan ini kau tau, sungguh ku ingin kau jadi miilkku” nyanyian ku di SBC.
Inikah yang disebut kasmaran? Baru kali ini aku merasakan kasmaran seperti ini yaa luar biasa ternyata. Jantungku berdetak diatas rata-rata ketika ku bertemu dia, ku sapa dia. Inikah cinta? masuk dalam pikiran, cinta dalam sekolah yang pernah terjadi. Yaa SMA ini aku jatuh cinta lagi sungguh bahagia hatiku. Aku ingat cinta ini seperti rumus kimia yang kupelajari. Kamu itu seperti oksidator, menaikkan bilangan cintaku. Aku juga ingat rumus matematika yang kupelajari kemarin, BAB logika tentunya. Jika kamu mencintaiku, maka aku pun mencintaimu!.Aku cinta padamu! Gapailah.
Tak terasa Adzan Asar berkumandang. Aku bergegas menuju mushola, ku tegakkan solatku untukku untuk agamaku. Kemudian aku berkaca lagi, kembali merenung,kuratapi lagi kejelekanku. Aku sadar wajahku jelek, aku jelek.Aku tak cocok dengan dia, dengan cinta dia. Dia putih, sedangkan aku coklat. Dia cantik sedangkan aku jelek. Yaa aku tak cocok dengan dia Galau kembali memperdayai! Ah!
***
 “Mi, cinta itu buta, aku ‘gak mandang wajah kamu gimana, seperti apa, yang penting cintaku ini tulus buatmu mi”. katanya. “Loh, lantas akankah kau menerimaku dengan kekuranganku ini?” tanyaku.“Yaa, aku akan menerima kamu, wajah bukan jaminan mi, yang penting hati kamu, ‘gak ada yang bisa lebih dari kamu pokoknya mi” jawabnya.
Tak kusangka akhirnya kini dia memeluk erat cintaku. Aku yang tak bermuka. Hanya wajah yang penuh cinta.

SELESAI

hehehe ini ceritaku, mana ceritamu? :P

0 komentar:

Posting Komentar

 
; X-Steel - Wait